Mendengkur, Tak Seremeh yang Dikira

shutterstock

Salah satu gangguan tidur yang kerap dianggap sepele adalah mendengkur, yakni suara getaran saat tidur ketika bernapas lantaran ada sumbatan pada sebagian saluran napas atas. Hal ini biasanya disebabkan getaran langit-langit lunak dan pilar yang membatasi rongga bagian tengah faring.

Diperkirakan 20 persen pria berusia 30-35 tahun mendengkur setiap kali tidur dan pada usia 60 tahun, angka ini mencapai lebih dari 50 persen. Menurut David Fairbanks, M.D, profesor otolaringologi di George Washington University School of Medicine, tonsil yang membesar dan membran tenggorokan yang mulai kendur dan melebar juga bisa jadi penyebab datangnya suara yang mengganggu ketenangan tidur orang lain ini.

Pada umumnya, mendengkur tidak mengundang risiko kesehatan bagi pendengkur tingkat ringan sampai sedang. Tetapi dengkur yang luar biasa keras dapat menghadapkan Anda pada beberapa masalah medis yang serius, salah satunya adalah obstructive sleep apnea (OSA/terhentinya napas saat tidur).

Kejadian OSA terjadi karena jalan napas tersumbat total sehingga penderita tidak bisa bernapas. Agak lama kemudian barulah bisa bernapas lagi. Kejadian seperti ini bisa terjadi beberapa ratus kali dalam semalam dan menurunkan kadar oksigen dalam darah sampai di bawah normal. “Ini akan membuat jantung Anda bekerja keras sehingga pasien tidak bisa tidur nyenyak,” kata Fairbanks.

Pendengkur yang mengalami OSA biasanya akan sering mengantuk di siang hari, bahkan bisa terlelap saat mengemudikan kendaraan. Selain itu, ia juga menjadi pemurung, pemarah, sulit berpikir dan sulit mengingat sesuatu.

Kurangnya oksigen dalam darah dan jantung yang dipaksa bekerja keras juga akan mengundang masalah kardiovaskular yang biasanya dikaitkan dengan usia lanjut, seperti hipertensi, gagal jantung, stroke, gangguan irama jantung, dan sebagainya.

KOMPAS.com

<!–/ halaman berikutnya–>

Iklan
Categories: TIPS KESEHATAN | Tinggalkan komentar

Benarkah Wanita Lebih Tertarik Pria Sayang Anak

Dari wajah pria seorang wanita dapat menangkap isyarat tentang bagaimana perasaan pria tersebut terhadap anak-anak. Kaum wanita dapat menangkap isyarat samar tersebut untuk menetapkan peringkat apakah pria tersebut bisa dijadikan pasangan hidup atau tidak.

Tim riset di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa rasa tertarik pada anak-anak dan kadar hormon pria memegang peranan penting dalam menentukan seberapa besar daya pikat pria bagi wanita.

“Data yang kami miliki menyiratkan bahwa rasa tertarik pria terhadap anak-anak meramalkan kelanggengan ketertarikan pasangan pria tersebut. Bahkan, stelah diperhitungkan dengan pula seberapa tinggi tingkat ketertarikan secara fisik seorang wanita terhadap seorang pria,” ungkap James Roney dari University of California, Santa Barbara.

Dalam suatu kajian terhadap 70 pria dan wanita, rasa tertarik pada anak-anak dikaitkan dengan potensi hubungan jangka panjang, sedangkan ketertarikan wanita pada pria atas hormon testosteron mereka yang tinggi dikaitkan dengan dengan hubungan romantis jangka pendek.

Dari ludah subjek para pria para peneliti kemudian kemudian mengukur kadar testosteron mereka. peneliti juga menilai dan memberi peringkat rasa tertatik itu kepada anak-anak dengan meminta mereka memilih antara foto orang dewasa dan foto bayi.

Subjek pria itu kemudian di foto dan diberikan kepada subjek wanita, mereka diminta menilai dan memberi peringkat pria-pria tersebut berdasarkan rasa tertariknya pada anak-anak, atas dasar maskulinitas, daya tarik fisik, dan potensi menjadi pasangan jangka pendek atau panjang.

Hasil penelitian yang kemudian dilaporkan di jurnal Proceeding of the Rhoyal Society B: Biological Sciences ini, memperlihatkan bahwa hanya dengan melihat foto, ternyata wanita mampu memilih pria yang mamapu mengeksfresikan rasa tertariknya pada anak-anak. Melalui foto, para wanita juga sanggup menggambarkan pria yang memiliki kadar testosteron tinggi sebagi maskulin.

“Pengkajian ini menyodorkan bukti langsung bahwa ketertarikan para wanita oleh dua pengaruh khusus, yaitu rasa tertarik pria pada anak-anak dan konsentrasi hormon pria,” papar Dario Maestripieri, dari Uneversity Of Chicago, anggota tim peneliti tersebut.

Setujukah anda ?

sumber: jjw/gaya hidup sehat

Categories: PSIKOLOGI | Tinggalkan komentar

Empat Jenis Ciuman Yang Disukai Pria

Secara harfiah berciuman berarti memberi makna saling menyentuh bibir untuk mengungkapkan rasa sayang. Namun ternyata ciuman itu sendiri ternyata banyak macamnya, tergantung bagaimana cara anda melakukannya.

Sebuah ciuman bisa berkesan  sayang, liar bahkan mengintimidasi. Ciuman juga bisa dilakuka dimanapun dibagian tubuh anda dalam durasi sedetik sampai beberpa menit.

Namun seperti apa sih ciuman yang disukai ? karena mereka sering melakukan “wet kiss”, apakah itu berarti mereka menyuakinya? mengapa mereka hanya memberi kecupan ringan pada kening pasangannya ?

Pada dasarnya ada empat ciuman yang disukai para pria

1. Menghisap Bibir

Ciuman jenis ini biasanya terjadi ketika anda berdua sedang bermesraaan dan si pria menghisap bibir atas atau bibir bawah pasangannya, Pria menyukai ciuman jenis ini karena bisa memprovokasi pasangannya untuk memberikan reaksi yang lebih “hot”. Ciuman ini biasanya merupakan ciuman resmi untuk mengawali sesi bercinta. Tak sekadar bercinta,  tapi juga segala macam gaya segala posisi dan segala macam petualangan lainnya. Lucunya sebaguan pria tidak suka bibirnya dihisap, mereka lebih suka melakukannya pada pasangan mereka. Alasannya ? coba tanyakan pada pasangan anda. 🙂

2. Ciuman ditengah sesi bercinta

Maknanya ya sesuai sebutannya, sambil berhubungan seksual sang pria mencuri-curi mencium pasangannya. Pria senang melakukan hal ini karena selain makin menciptakan kenikmatan juga merupakan kombinasi dari aktifitas seksual yang paling liar dan klasik. jika mampu dilakukan dengan nyaman maka saat itulah anda berdua mampu menikmatinya.

3. Kecupan ringan

Ciuman ini tergolong yang paling sederhana dan tidak melibatkan dorongan seksual. Kecupan bisa dilakukan di bibir, kening, pipi atau diamanapun dia menginginkannya. Pria umumnya senang ketika melakukan kecupan pada kepala atau leher pasangannya karena saat itu tercium wangi shampo atau lotion ataupun parfum yang tercampur aroma tubuh pasangannya yang sebenarnya. Sebaliknya pria akan suka dikecup dimana saja.

4. French kiss

Saat melakukannya si pria akan menyelipkan lidahnya pada mulut pasangannnya. Ciuman ini biasanya terjadi ketika suasana benar-benar panas. Pria senang melakukannya karena sama liarnya dengan hubungan seks itu sendiri. Ketika mata saling menutup, kepala dimiringkan tubuh saling mendekap, tangan saling menggenggam, itulah momen yang paling menyenangkan buatnya. Ada semacam artikulasi dan intuisi dalam ciuman yang menggairahkan sehingga tiada ada kata-kata atupun seks yang mengikutinya.  kompas.com

sumber : your tango

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Menikah Bikin Tubuh Gampang Melar

Mereka yang menikah cenderung lebih mudah mengalami kelebihan berat badan. Bahkan resiko mengalami kegemukan hingga mencapai dua kali lipat  dibandingkan dengan mereka yang masih lajang.

Riset terbaru ilmuwan Yunani menemukan bahwa pasangan yang menikah rentan mengalami kegemukan karena perubahan gaya hidup yang signifikan. Pria yang menikah tercatat tiga kali lebih besar peluangnya mengalami obesitas, sedangkan wanita yang menikah cenderung dua kali lipat lebih besar mengalami problem berat badan.

Kesimpulan itu merupakan hasil penelitian terhadap 17.000 pasangan berusia 20 hingga 70. Fakta riset mengungakpkan , pasangan yang menikah lebih jarang atau tepatnya malas berolahraga dan mendapat asupan gizi yang buruk. Pasangan yang menikah juga mengaku “nyaman” dengan prinsip hidup yang mengalir.

Pasangan yang menikah juga lebih banyak menghabiskan waktunya untuk makan bersama ,  duduk bareng di depan televisi, dan lebih suka memesan makanan siap saji. Tetapi aktifitas oahraga mereka justru tidak terlalu sering.

Para pakar dari Salonica dan Ioanina University, yang menyimpulakan temuannya pada konferensi kesehatan Panhellenic di Athena, menyimpulkan bahwa “obesitas abdominal” atau penumpukan lemak di lingkar perut adalah masalah yang paling buruk diantara pasangan yang sudh menikah.

Bagaimana dengan Anda ?

kompas.com sumber: teleghraph.co.uk

Categories: PSIKOLOGI | Tinggalkan komentar

Suara Ibu di Telepon Setara Pelukan

Tentu saja setiap ibu ingin menyaksikan perkembangan buah hatinya, tapi bagaimana jika bekerja di luar rumah ? Sering-seringlah  berkomunikasi dengan si kecil lewat telepon karena suara sang ibu setara dengan pelukan.

Bekerja dan menjadi ibu memang bukan tugas yang mudah, namun ada banyak cara untuk menyiasati waktu yang langka. Komuniksi lewat telepon adalah salah satunya. Bercakap-cakap lewat telepon selain sebagai “obat rindu” juga bisa membuat hati sang anak menjadi lebih nyaman, senyaman dipeluk ibu.

Penelitian menunjukan pelukan bisa mengurangi rasa stress bahkan termasuk rasa sakit  yang kita derita. Namun terkadang jarak menghalangi terjadinya kontak fisik. Untuk menyiasatinya, pelukan bisa digantikan sementara oleh komunikasi di telepon, khususnya suara ibu buat anaknya. Hal ini dibuktikan lewat berbagai penelitian terbaru para ilmuwan di Amerika.

Penelitian melibatkan 60 anak perempuan usia 7-12 tahun yang dikondisikan berada dalam situasi stress. Mereka diminta pidato didepan orang banyak yang tidak dikenalnya. Kemudian hormon mereka dimonitor, apakah ada perubahan yang terjadi ketika mereka mendapatkan pelukan ibunya atau ketika mereka hanya berbicara lewat telepon.

Anak-anak itu terbagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok anak-anak yang didampingi ibunya untuk memberi rasa nyaman, baik berupa genggaman tangan atau pelukan. Kelompok kedua adalah kelompok anak-anak yang berbicara dengan ibunya lewat telepon dan kelompok yang ketiga adalah anak-anak yang hanya menonton film dan bersifat netral.

Otitoksin, hormon yang berkaitan dengan ikatan emosional dan menjadi penawar hormon efek stress, kortisol, ternyata meningkat pada kelompok satu dan dua. Namun tidak demikian  dengan kadar otitoksin pada anak kelompok tiga.

“Selama ini diketahui Otitoksin hanya keluar melalui kontak fisik. tapi dengan penelitian diatas terbukti juga bahwa suara ibu ditelepon bisa setara dengan sebuah pelukan.” kata Dr Leslie seltzer, ketua peneliti dari universitas Wisconsin-Madison.

sumber: BBC

Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Efek Ketidakhadiran Ayah: Seberapa Buruk!

shutterstock.com

Kebanyakan orang berpendapat, anak merupakan tanggung jawab ibu karena ayah mencari nafkah. Pertimbangkan lagi pandangan ini! Sebab, absennya ayah dalam proses pendidikan terbukti memiliki dampak luar biasa bagi perkembangan anak.

Menyerahkan pendidikan anak hanya kepada ibu tampaknya harus dikaji ulang. Kalau sambil bercanda, kita bisa bilang, “Bikinnya berdua, kok setelah jadi si istri disuruh bertanggung jawab sendiri?” Memang ada beberapa alasan serius yang perlu dipertimbangkan ulang.

Pertama, anak merupakan buah cinta yang direncanakan dan diinginkan bersama antara suami dan istri, yang kehadirannya diharapkan dapat mengokohkan dan memperteguh hubungan mereka sebagai sebuah keluarga. Dengan demikian, keberadaan anak merupakan tanggung jawab suami istri bersama-sama.

Kedua, pembagian kerja secara seksual (sesuai dengan jenis kelamin), urusan publik (mencari nafkah) menjadi tanggung jawab ayah dan urusan domestik (mendidik anak dan mengurus rumah tangga) menjadi tanggung jawab ibu, kini tidak relevan lagi. Kebanyakan ibu kini juga bekerja, di luar ataupun di rumah, untuk menghasilkan uang. Tidak tepat lagi jika pendidikan anak dipasrahkan hanya kepada ibu.

Ketiga, dalam proses tumbuh kembang, ternyata anak-anak membutuhkan kehadiran ayah dan ibu sebagai patron atau panutan dan sumber kasih sayang.

Ayah kadang-kadang
Di Jepang, sebagian orang mencemaskan pertumbuhan anak-anak kota besar yang timpang akibat absennya ayah dalam proses tumbuh kembang generasi kristal itu. Mereka hidup serumah, tetapi pagi-pagi sekali ketika ayah belum bangun, anak sudah berangkat sekolah. Malam hari ketika anak sudah tidur, sang ayah baru pulang.

Begitu kehidupan mereka setiap har sehingga anak-anak tidak punya kesempatan bertemu ayahnya. Dikhawatirkan anak-anak di negara paling makmur di Asia itu bahkan menyaksikan (yang berarti belajar) bagaimana ayah dan ibu berinteraksi pun tidak pernah bisa.

Jika demikian, apakah mereka bisa diharapkan mengerti bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi secara baik? Lebih dari itu, bagaimana anak-anak dapat tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan kuat jika kehadiran ayah nol besar?

Penggambaran situasi semacam itu mungkin berlebihan. Namun, hal itu bisa menjadi peringatan bagi orangtua yang mengharapkan anak-anak tumbuh sehat fisik dan mentalnya agar tidak mengabaikan kebutuhan anak akan kehadiran ayah.

Di Indonesia, kita bisa menyaksikan banyak pria yang hanya kadang-kadang saja menjadi ayah. Mengapa disebut kadang-kadang karena sehari-hari mereka tidak memberikan kontribusi terhadap kebutuhan anak saat menghadapi proses belajar dan pembentukan diri. Hanya kadang-kadang saja mereka teringat dan terlibat dalam urusan anak.

Hal itu terjadi akibat perceraian ataupun lemahnya komitmen ayah terhadap proses tumbuh kembang anak. Lain dengan di Barat, orangtua yang bercerai masih bisa berbagi dalam hal mengurusi anak, di Indonesia perceraian umumnya tidak memerhatikan hak anak. Kalaupun ada perhatian, sebatas soal biaya anak yang dikemukakan. Karena itu, kalau terjadi perceraian, biasanya anak kehilangan salah satu orangtuanya.

Berdampak buruk
Ada sejumlah hasil penelitian yang memperlihatkan efek ketidakhadiran ayah, seperti dikutip menweb.org. Dalam studi yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, AS, dari 144 sampel anak dan remaja awal yang orangtuanya bercerai, ditemukan tiga masalah utama.

Sebanyak 63 persen anak mengalami problem psikologis subyektif, seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia, dan depresi. Sebanyak 56 persen kemampuan berprestasinya rendah atau di bawah kemampuan yang pernah mereka capai pada masa sebelumnya. Sebanyak 43 persen melakukan agresi terhadap orangtua.

Dalam studi yang dilakukan khusus terhadap anak-anak perempuan, ditemukan hasil yang kurang lebih sama: 69 persen mengalami problem psikologis, 47 persen punya masalah akademis, dan 41 persen melakukan agresi terhadap orangtuanya.

Dalam Journal of Divorce Harvard University, AS, Rebecca L Drill, PhD, mengatakan, “Akibat perceraian orangtua dan absennya ayah, setelah itu memiliki dampak luar biasa negatif terhadap perasaan anak. Sebagai contoh, perceraian orangtua dan kehilangan ayah terbukti berkaitan erat dengan kesulitan anak melakukan penyesuaian di sekolah, penyesuaian sosial, dan penyesuaian pribadi.”

Singkat kata, tanpa mengabaikan hasil-hasil penelitian lain yang memperlihatkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai dapat berhasil dalam hidupnya, absennya figur ayah dalam kehidupan anak memiliki dampak yang buruk terhadap anak. Karena itu, sebaiknya para ayah tidak under estimate atau menilai diri terlalu rendah menyangkut perannya dalam proses tumbuh kembang anak.

Mulai hari ini
Jika Anda, para ayah, merasa memiliki komitmen yang rendah terhadap proses pendidikan anak sehingga hubungan antara ayah dan anak menjadi kurang dekat, buang jauh-jauh ide “sudah telanjur” dari benak Anda!

Prof Rob Palkovitz, konselor dan penulis buku tentang keterlibatan ayah, mengingatkan, “Hentikan berpikir tentang masa lalu dan pusatkan perhatian Anda pada ke mana Anda ingin melangkah!”

Berikut ini beberapa saran Palkovitz berdasarkan hasil risetnya, interaksinya dengan empat anaknya, dan pengalamannya membantu anak-anak yang ayahnya absen dari sisi mereka:

1.    Pusatkan perhatian pada hal-hal yang benar dan positif bagi Anda dan anak. Sebagai contoh, katakan kepada diri Anda sendiri, “Betapa membanggakannya Ayah bekerja keras untuk menghidupi keluarga,” tanpa tambahan apa pun, dan betapa berbedanya kalau ada tambahan, “Tetapi, alangkah lebih baiknya kalau Ayah lebih sering berada di rumah.” Sebaliknya, bicaralah kepada anak Anda, “Betapa bangganya menjadi ayahmu, Nak,” tanpa pernah menambahkan kalimat, “Tetapi, akan lebih membanggakan kalau kamu bisa membereskan kamarmu.” Jika Anda dapat memahami kedua hal tersebut, berarti dua langkah membangun hubungan sudah Anda lalui.

2.  Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun hubungan. Karena itu, pahami saat ini Anda berada di titik mana dan ingin menuju ke titik mana.

3.  Kehidupan ini dibangun oleh jutaan “sekarang juga”. Jika Anda ingin membangun hubungan baik dengan anak-anak, mulailah sekarang juga.

4.  Pikirkan kalimat apa yang ingin diucapkan oleh anak-anak ketika mereka meninggalkan rumah: “Ayahku selalu…” Kata-kata apa yang Anda inginkan diucapkan anak-anak untuk melengkapi kalimat tersebut, maka itulah jalan untuk memulai perubahan sikap Anda sendiri. Mau jadi ayah yang baik?

Kriteria ayah yang baik
Dalam bukunya yang berjudul Involved Fathering and Men’s Adult Development: Provisional Balances, Prof Rob Palkovitz membuat kriteria tentang kualitas seorang ayah yang baik.  Simak dan periksa, apakah Anda termasuk di dalamnya!

Perceraian ayah dan ibu tidak dapat menjadi alasan yang cukup untuk menilai diri baik atau tidak sebagai ayah. Sebab, meskipun ada istilah “bekas istri” atau “bekas suami,” tidak ada “bekas ayah”.

  • Suportif
  • Menetapkan peraturan
  • Bertindak sebagai guru
  • Pembimbing moral
  • Menjadi model peran bagi anak
  • Memiliki kesabaran
  • Pendengar yang baik
  • Pemberi nafkah yang baik
  • Hidup sesuai dengan harapannya atas kehidupan anaknya
  • Tetap ingat bagaimana rasanya menjadi anak sehingga mengerti perasaan anak

@ Widya Saraswati

Categories: ARTIKEL | Tinggalkan komentar

Apa Tipe Hubungan Anda Dalam Perkawinan?

Shutterstock

ilustrasi

Alasan utama yang mendasari sebuah perkawinan adalah untuk memiliki teman hidup yang dicintai dan mendapatkan kepuasan psikologis dari hubungan tersebut. Kenyataannya, perkembangan perkawinan dapat menuju ke berbagai arah, sehingga ada berbagai tipe hubungan dalam perkawinan.

Untuk apa menikah? Setiap orang dapat memiliki jawaban berbeda-beda atas pertanyaan tersebut. Mungkin alasannya ekonomi, yakni untuk menjamin kelangsungan hidup secara materi. Itu sebabnya kita menemukan perkawinan yang pertimbangan utamanya adalah kekayaan calon pasangan.

Alasan-alasan lain yang dapat kita temukan antara lain demi mendapatkan keturunan, demi status sosial, demi cinta, dan sebagainya. Namun, alasan yang paling umum mendasari keputusan seseorang untuk menikah adalah untuk memiliki teman hidup yang dicintai dan mendapatkan kepuasan psikologis dari hubungan tersebut.

Meskipun di samping alasan tersebut mungkin juga ada pertimbangan ekonomi atau status sosial, pemenuhan kebutuhan psikologis akan adanya pasangan hidup (companionship) biasanya menjadi tujuan utama. Dengan tujuan utama seperti ini, seseorang akan merasa hidupnya bahagia bila menemukan kepuasan dalam relasi perkawinan.

Sayang sekali tujuan untuk memiliki relasi perkawinan yang hangat, terbuka, saling menghargai, kehidupan seks yang harmonis, komitmen jangka panjang, itu semua lebih mudah diimpikan, tetapi tidak mudah untuk diwujudkan.

Tidak semua pasangan yang memiliki tujuan atau nilai-nilai tersebut dapat meraihnya dengan cara yang sama dan dalam tingkat pencapaian yang sama pula. Alhasil, terdapat bermacam-macam tipe hubungan dalam perkawinan.

Tipologi Relasi
William Lederrer & Don Jackson (dalam Atwater, 1983) mengklasifikasi perkawinan ke dalam dua dimensi: puas/tidak puas dan stabil/labil. Menurut mereka, pada umumnya perkawinan termasuk dalam kategori puas dan labil, yakni terdapat komitmen yang kuat terhadap perkawinan, tetapi kadang-kadang mengalami stres, ketidaksepakatan, dan pertengkaran.

Di sisi lain, perkawinan yang berakhir dengan perceraian atau dihiasi permasalahan berat, biasanya memiliki relasi yang tak memuaskan dan tidak stabil, ditandai dengan adanya konflik berkelanjutan dan saling menyakiti.

Tipologi relasi perkawinan yang lebih populer adalah dari studi yang dihasilkan oleh Cuber & Harroff. Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 100 pasangan yang telah menikah lebih dari sepuluh tahun dan tidak terancam perceraian serius, mereka lantas menglasifikasi pasangan yang diteliti.

Menurut Cuber & Harroff, secara keseluruhan terdapat enam klasifikasi atau tipe hubungan dalam perkawinan.

1.    Conflict-habituated
Tipe hubungan conflict-habituated adalah tipe pasangan yang jatuh dalam kebiasaan mengomel dan bertengkar. Kebiasaan ini menjadi semacam jalan hidup bagi mereka, sehingga secara konstan selalu menemukan ketidaksepakatan. Jadi, stimulasi perbedaan individu dan konflik justru mendukung kebersamaan pasangan tersebut. Kadang didukung oleh kehidupan seks yang memuaskan.

2.    Devitalized
Tipe hubungan devitalized merupakan karakteristik pasangan yang sekali waktu dapat mengembangkan rasa cinta, menikmati seks, dan satu sama lain saling menghargai. Namun, mereka cenderung mengalami kekosongan perkawinan dan tetap bersama-sama, terutama demi anak dan posisi mereka dalam komunitas.
Cukup menarik, karena pasangan dengan tipe ini tak merasa bahwa dirinya tidak bahagia. Mereka berpikir bahwa keadaan yang dialami merupakan hal biasa setelah tahun-tahun penuh gairah dilampaui. Sayang sekali bahwa tampaknya ini merupakan tipe yang paling umum dalam perkawinan.

3.    Passive-congenial
Pasangan dengan tipe passive-congenial sama dengan pasangan tipe devitalized, tetapi kekosongan perkawinan itu telah berlangsung sejak awal. Perkawinan seperti ini seringkali disebabkan perkawinan lebih didasari kalkulasi ekonomi atau status sosial, bukan karena hubungan emosional.

Seperti pasangan tipe devitalized, hanya sedikit keterlibatan emosi, tidak terlalu menghasilkan konflik, tetapi juga kurang puas dalam perkawinan. Nyatanya, pasangan-pasangan ini lebih banyak saling menghindar, bukannya saling peduli.

4.    Utilitarian
Berbeda dengan tipe-tipe yang lain, tipe utilitarian ini lebih menekankan pada peran daripada hubungan. Terdapat perbedaan sangat kontras, terutama bila dibandingkan dengan dua tipe terakhir (vital dan total) yang bersifat intrinsik, yaitu yang mengutamakan relasi perkawinan itu sendiri.

5.    Vital
Tipe vital ini merupakan salah satu dari tipe hubungan perkawinan dengan ciri pasangan-pasangan terikat satu sama lain, terutama oleh relasi pribadi antara yang satu dengan yang lain. Di dalam relasi tersebut, satu sama lain saling peduli untuk memuaskan kebutuhan psikologis pihak lain, dan saling berbagi dalam melakukan berbagai aktivitas.

Pada tipe ini masing-masing pribadi memiliki identitas pribadi yang kuat. Di dalam komunikasi mereka terdapat kejujuran dan keterbukaan. Bila terdapat konflik biasanya karena hal-hal yang sangat penting dan dapat diatasi dengan cepat. Ini merupakan tipe perkawinan yang paling memuaskan. Sayang sekali tipe ini paling sedikit kemungkinannya.

6.    Total
Tipe ini memiliki banyak kesamaan dengan tipe vital. Bedanya, pasangan-pasangan ini menjadi “satu daging” (one flesh). Mereka selalu dalam kebersamaan secara total, sehingga meminimalisasi adanya pengalaman pribadi dan konflik. Tidak seperti pada tipe devitalized, kesepakatan biasanya dilakukan demi hubungan itu sendiri. Tipe perkawinan seperti ini sangat jarang.

Mengupayakan Kebahagiaan
Tidak terlalu berguna bila kita menerapkan tipologi hubungan perkawinan ini untuk orang lain. Manfaat utama yang dapat kita petik adalah dengan menengok pada perkawinan kita masing-masing.

Dengan mencoba mencari kesesuaian hubungan perkawinan kita dengan salah satu dari enam tipe yang telah diuraikan di atas, kita dapat bercermin seperti apakah perkembangan relasi perkawinan kita.

Apakah kita memiliki ciri-ciri hubungan dengan tipe vital? Bila ya, berbahagialah kita karena menemukan kepuasan dalam perkawinan. Bila kenyataannya lain, berarti sudah saatnya mengupayakan kebahagiaan perkawinan yang telah dibina.

Apakah yang perlu diusahakan? Tidak lain dengan melakukan penyesuaian diri dalam beberapa hal: penyesuaian peran, dalam komunikasi dan konflik, dalam kehidupan seks, dan dalam menghadapi perubahan-perubahan (Atwater, 1983).

Penyesuaian dalam peran
Untuk mencapai kepuasan dalam perkawinan, kedua belah pihak harus terus-menerus kembali menyesuaikan diri (readjusting) dalam memahami apa yang dapat diharapkan satu sama lain secara rasional dari peran masing-masing. Hal yang paling penting adalah memperbesar fleksibilitas dalam meletakkan harapan peran terhadap pasangan masing-masing.

Harapan yang terlalu kaku dan tidak realistis (misalnya mengharapkan istri harus pandai memasak atau suami harus mencukupi semua kebutuhan finansial) tentu akan menimbulkan kekecewaan. Sharing atau berbagi peran perlu dilakukan, misalnya istri ikut ambil bagian untuk mencari nafkah. Di sisi lain, suami juga ambil bagian dalam pengasuhan anak dan urusan domestik lainnya.

Dalam komunikasi dan konflik
Perkawinan yang bahagia selalu ditunjang oleh komunikasi yang efektif: membicarakan berbagai persoalan, memahami apa yang didengar dengan baik, sensitif terhadap perasaan pihak lain, dan menggunakan ekspresi nonverbal di samping komunikasi verbal, tidak menyalahartikan pesan emosi pasangan. Pasangan tidak bahagia biasanya karena cenderung mendistorsi (menyalahartikan) pesan-pesan verbal maupun nonverbal secara negatif.

Konflik dalam perkawinan dapat berkembang karena kesalahan komunikasi, ketidakserasian hubungan seks, masalah keuangan, anak, dan sebagainya. Untuk mengatasi konflik-konflik tersebut, yang penting adalah bagaimana mengelolanya.
Yang terbaik adalah menghadapi konflik, bukan menghindarinya. Perlu diyakini bawa perbedaan dan konflik adalah hal yang biasa terjadi dalam perkawinan. Dengan itu kita dapat belajar bagaimana mengatasi melalui cara yang disepakati, sehingga dua belah pihak dapat tumbuh semakin matang.

Dalam relasi seksual
Baik pria maupun wanita memiliki kebutuhan seksual yang berbeda-beda, dan kepuasan yang diharapkan juga berbeda-beda. Karena itu, yang diperlukan adalah keterbukaan satu sama lain untuk menemukan keserasian.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah membangun kedekatan dan rasa aman dengan pasangan. Kebanyakan pasangan mengalami kenikmatan intercourse karena kedekatan dan rasa aman tersebut.

Dalam menghadapi perubahan
Dengan berjalannya waktu, dengan kehadiran anak, dan lain-lain, pada umumnya pasangan-pasangan mengalami penurunan gairah. Mereka mengalami devitalized: persoalan berkurang, tetapi juga semakin kurang mengekspresikan cinta.
Namun, terdapat pengecualian: mereka yang tetap saling terbuka dan menjaga kebersamaan justru semakin menunjukkan rasa cinta bila dibanding dengan masa-masa awal perkawinan. @

M.M Nilam Widyarini M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

Categories: ARTIKEL | Tinggalkan komentar

Penyakit-penyakit Akibat Stres

img
Ilustrasi (foto: getty images)

Jakarta, Stres bukan hanya masalah psikologis, karena dampaknya juga cukup besar terhadap kesehatan fisik. Gejalanya mudah dikenali, namun jarang dilihat sebagai tanda bahwa stres tengah melanda. Setidaknya ada 10 penyakit akibat stres.

Kenyataannya seringkali stres dianggap tidak perlu diobati, terutama jika akibatnya hanya keluhan-keluhan ringan seperti migrain dan perut mulas. Orang tetap berharap penyakitnya akan sembuh setelah stresnya hilang sehingga tidak perlu diobati.

Berikut ini beberapa keluhan kesehatan yang sering dialami saat stres melanda, dikutip dari Prevention, Kamis (20/5/2010).

Sakit kepala serta migrain
Daya tahan tubuh bisa menurun karena stres lalu memicu migrain menurut Todd Schwedt, MD, direktur pusat sakit kepala di Washington University. Untuk menghindarinya, pastikan pola makan dan tidur dalam sepekan selalu terjaga.

Kram yang sangat sakit

Ketidakseimbangan hormon saat stres bisa mengakibatkan kram yang sangat menyakitkan, terutama pada wanita. Saat stres, risiko mengalami kram 2 kali lebih besar karena aktivitas syaraf simpatis lebih tinggi. Olahraga secara teratur dapat mencegahnya.

Sakit di sekitar mulut

Rahang terasa nyeri merupakan tanda bahwa stres tengah melanda. Tanpa disadari, gigi atas dan bawah saling menggeretak saat stres dan memicu tekanan berlebih di pelipis. Gejala ini bisa dicegah dengan memasang pelindung di antara kedua gigi saat tidur malam.

Jarang bermimpi saat tidur
Mimpi terbentuk secara bertahap, sehingga butuh kondisi tidur nyenyak. Ini sulit terjadi saat sedang stres, sebab tidurnya menjadi tidak nyenyak. Jika sering terjaga tengah malam, maka proses terbentuknya mimpi akan terganggu.

Gusi berdarah
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres meningkatkan risiko penyakit periodontal (gigi dan mulut) pada seseorang. Meningkatnya hormon kortisol saat stres akan melemahkan sistem imun, dan memudahkan infeksi bakteri ke dalam gusi.

Jerawat dimana-mana
Profesor dermatologi dari Wake Forest University, Gil Yosipovitch, MD mengungkap bahwa stres meningkatkan risiko inflamasi termasuk di wajah. Untuk mencegah munculnya jerawat, oleskan pelembab dan lotion yang mengandung asam salisilat saat stres.

Ingin makan yang manis-manis
Jika wanita menjadi ingin makan cokelat saat akan menstruasi, ini bukan disebabkan hormon progesteron. Penelitian di University of Pennsylvania membuktikan, saat menopause sekalipun wanita tetap mengalami gejala itu. Penelitian tersebut mengungkap, sesungguhnya penyebab ingin makan yang manis-manis adalah stres.

Kulit gatal-gatal
Sebuah penelitian di Jepang mengungkap, orang yang mengalami pruritis (penyakit kulit yang dicirikan oleh gatal-gatal kronis) 2 kali tebih rentan mengalami stres. Namun penelitian tersebut juga mengungkap hal yang sebaliknya, bahwa stres itu sendiri juga bisa mengaktifkan sejumlah serabut syaraf yang memicu sensasi gatal.

Alergi yang lebih parah dari biasanya
Menurut sebuah penelitian di Ohio State University tahun 2008, pikiran gelisah dan tidak tenang dapat memperparah kondisi pada penderita alergi. Hormon stres diyakini memicu produksi imunoglobulin E (IgE), yakni protein dalam darah yang menyebabkan reaksi alergi.

Mendadak sakit perut
Pada orang stres, risiko mengalami sakit perut meningkat 3 kali lipat dibandingkan saat rileks. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi sebuah teori menyebutkan bahwa jaringan syaraf di otak dan usus saling terhubung. Ketika syaraf otak bereaksi terhadap stres, syaraf di usus menangkap sinyal yang sama dan memberikan respon tertentu misalnya rasa mulas

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Categories: ARTIKEL | Tinggalkan komentar

Gaya Makan Manusia Kalah Sehat dari Simpanse

img
Ilustrasi (foto: getty images)

Jakarta, Secara genetis, sanusia memiliki kekerabatan cukup erat dengan simpanse. Jika simpanse memiliki pola makan sehat

yang membuatnya jarang sakit, hal yang sama bisa diterapkan pada manusia termasuk menyantap lebih banyak makanan segar.

Dikutip dari Honoluluzoo, Jumat (21/5/2010), makanan utama simpanse adalah buah-buahan dengan jenis yang bervariasi tergantung musimnya. Daun-daunan yang kaya akan serat juga merupakan menu utama para simpanse.

Jika buah-buahan sulit diperoleh, simpanse juga akan memakan biji-bijian. Bunga, kulit kayu, damar dan pati juga dijadikan menu alternatif ketika tidak bisa menemukan buah segar misalnya saat kemarau panjang.

Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kebutuhan primata termasuk dalam hal ini manusia adalah karbohidrat dalam bentuk kompleks. Secara alami, tubuh manusia tidak dikondisikan untuk membutuhkan gula pasir, karbohidrat sederhana yang banyak terdapat dalam makanan modern.

Hasrat alami untuk menyantap makanan segar memudar karena makanan modern memang menawarkan kemudahan, dan kadang-kadang harga yang lebih murah. Ketergantungan pada makanan modern itulah yang akhirnya memicu berbagai masalah, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes.

Fakta lainnya, dalam sehari simpanse menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyantap sekitar 20 spesies tanaman. Apabila habitatnya mendukung, simpanse dapat memakan sedikitnya 300 species yang berbeda dalam setahun.

Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh manusia, yang memiliki kelebihan menyangkut teknologi pertanian. Tidak seperti simpanse, manusia bisa mendapatkan buah atau sayuran apa saja dengan mudah di supermarket tanpa harus menunggu musimnya.

Terlebih lagi, manusia memiliki peralatan untuk membuat variasi makanan segar lebih beragam. Misalnya biji-bijian yang sulit dilumatkan oleh simpanse, oleh manusia bisa digerus dengan blender atau alat pemecah biji-bijian.

Simpanse juga membutuhkan protein dari serangga, terutama sekali rayap. Sesekali burung juga disantap, bahkan kera, babi dan antelop juga sering dimakan. Namun kebutuhan protein dari hewan hanya 5 persen dari seluruh kebutuhan nutrisi.

Jika ingin menerapkan pola makan sehat ala simpanse, hobi menyantap ayam goreng maupun sate kambing harus disingkirkan. Sesekali menyantap sashimi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Daging mentah tidak masalah karena hanya sekali waktu.

Membatasi makanan yang dibakar maupun digoreng akan mengurangi berbagai risiko kesehatan. Lemak jenuh serta kolesterol jahat bisa menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah, sementara makanan bakar merupakan karsinogen atau pemicu kanker.

Jika simpanse bisa hidup sehat dengan lebih banyak menyantap makanan segar, manusia tentunya bisa menirunya. Keunggulan akal budi yang dimiliki manusia seharusnya bisa membantu untuk lebih menyelaraskan diri dengan alam

Jakarta, Secara genetis, sanusia memiliki kekerabatan cukup erat dengan simpanse. Jika simpanse memiliki pola makan sehat

yang membuatnya jarang sakit, hal yang sama bisa diterapkan pada manusia termasuk menyantap lebih banyak makanan segar.

Dikutip dari Honoluluzoo, Jumat (21/5/2010), makanan utama simpanse adalah buah-buahan dengan jenis yang bervariasi tergantung musimnya. Daun-daunan yang kaya akan serat juga merupakan menu utama para simpanse.

Jika buah-buahan sulit diperoleh, simpanse juga akan memakan biji-bijian. Bunga, kulit kayu, damar dan pati juga dijadikan menu alternatif ketika tidak bisa menemukan buah segar misalnya saat kemarau panjang.

Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kebutuhan primata termasuk dalam hal ini manusia adalah karbohidrat dalam bentuk kompleks. Secara alami, tubuh manusia tidak dikondisikan untuk membutuhkan gula pasir, karbohidrat sederhana yang banyak terdapat dalam makanan modern.

Hasrat alami untuk menyantap makanan segar memudar karena makanan modern memang menawarkan kemudahan, dan kadang-kadang harga yang lebih murah. Ketergantungan pada makanan modern itulah yang akhirnya memicu berbagai masalah, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes.

Fakta lainnya, dalam sehari simpanse menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyantap sekitar 20 spesies tanaman. Apabila habitatnya mendukung, simpanse dapat memakan sedikitnya 300 species yang berbeda dalam setahun.

Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh manusia, yang memiliki kelebihan menyangkut teknologi pertanian. Tidak seperti simpanse, manusia bisa mendapatkan buah atau sayuran apa saja dengan mudah di supermarket tanpa harus menunggu musimnya.

Terlebih lagi, manusia memiliki peralatan untuk membuat variasi makanan segar lebih beragam. Misalnya biji-bijian yang sulit dilumatkan oleh simpanse, oleh manusia bisa digerus dengan blender atau alat pemecah biji-bijian.

Simpanse juga membutuhkan protein dari serangga, terutama sekali rayap. Sesekali burung juga disantap, bahkan kera, babi dan antelop juga sering dimakan. Namun kebutuhan protein dari hewan hanya 5 persen dari seluruh kebutuhan nutrisi.

Jika ingin menerapkan pola makan sehat ala simpanse, hobi menyantap ayam goreng maupun sate kambing harus disingkirkan. Sesekali menyantap sashimi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Daging mentah tidak masalah karena hanya sekali waktu.

Membatasi makanan yang dibakar maupun digoreng akan mengurangi berbagai risiko kesehatan. Lemak jenuh serta kolesterol jahat bisa menyebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah, sementara makanan bakar merupakan karsinogen atau pemicu kanker.

Jika simpanse bisa hidup sehat dengan lebih banyak menyantap makanan segar, manusia tentunya bisa menirunya. Keunggulan akal budi yang dimiliki manusia seharusnya bisa membantu untuk lebih menyelaraskan diri dengan alam.
AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Categories: TIPS KESEHATAN | Tinggalkan komentar

Kawan anda = Lawan anda

Sebuah pepatah mengatakan tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi.

Bagaimana jika hal ini terjadi di lingkungan kerja kita..?

Tentu menyenangkan jika kawan anda menjadi rekan kerja anda di kantor. Selain komunikasi bisa terjalin lebih erat, suasana kerja pun menjadi lebih akrab.

Bagi sebagian orang, pertemanan dan profesionalitas memang harus berjalan beriringan, tapi ada juga yang tidak berpendapat seperti itu. Bahkan bagi beberapa orang pertemanan yang awalnya baik, bisa juga hancur berantakan karena masalah pekerjaan.

“Semuanya bisa  berjalan baik atau buruk, tergantung banyak faktor, salah satunya adalah kepribadian mereka masin-masing dan bagaimana hubungan profesional mereka di kantor.” ujar Irene S Levine, penulis “Best Friends Forever, seperti dikutip dari careerbuilder.com .

Contohnya saja, ketika salah satu dari mereka agresif dan mudah cemburu, salah satu menjadi Super Visor, atau mereka berada dalam lingkungan yang kompetitif, atau terdapat perbedaan gaji ataupun jabatan yang jauh diantara mereka, maka hal itu bisa memicu timbulnya keretakan dalam pertemanan .

“Karena dalam situasi seperti ini hubungan pertemanan bisa mencaoai titik terendah, maka sebuah pertemanan harus dibangun secara perlahan dan hati-hati agar tidak terjadi kekecewaan, anda harus membiarkannya berjalan perlahan agar anda memiliki kepekaan untuk menilai apakah orang tersebut bisa di percaya memiliki penilaian yang bijaksana terhadap suatu hal,” jelas Levine .

Banyak sekali hal yang bisa memicu putusnya hubungan pertemanan di tempat kerja, beberapa kasus menceritakan adanya perbedaan sikap dari salah satu pihak karena yang lainnya diberhentikan atau tidak lagi bekerja di perusahaan yang sama, kejadian ini bisa jadi disebabkan karena salah satu pihak merasa temannya tak lagi menguntungkan posisinya di tempat kerja tersebut.

Inilah mengapa Levine menyarankan agar setiap pertemanan harus dibangun secara perlahan-lahan untuk menguji seberapa kuat komitmen seseorang terhadap pertemanan.

Kasus yang lainnya terjadi karena terjadi affair atau hubungan terlarang antara teman dengan kekasihnya. Jelas hal ini akan membuat hubungan pertemanan yaang erat sekalipun akan hancur berantakan, Sedangkan kasus yang lain terkadang sulit di artikan karena ada saja orang-orang yang tiba-tiba menjaga jarak atau memutuskan pertemanan tanpa sebab yang jelas.

Solusi….

Bagaimana jika pertemanan anda dengan rekan kerja terancam berakhir? Apakah mungkin perpecahan tersebut bisa diperbaiki?

“Levin mencoba memberikan beberapa saran :

Buat batasan cobalah melakukan komunikasi, tanpa menyalahkan siapapun atau salah satu pihak, siapa tahu masalah tersebut hanyalah kesalah pahaman kecil yang bisa cepat diatasi.

“Bisa saja anda berdua membicrakan soal batasan-batasan yang harus segera dibuat agar hubungan pertemanan dan hubungan kerja menjadi lebih nyaman. Misalnya dengan membuat perjanjian bahwa pertemanan hanya berlaku di tempat kerja ataupun justru hanya diluar tempat kerja, dengan meminimalisir membicarakan masalah pekerjaan.”

Hentikan dengan cara yang elegan pertemanan yang tak bisa diselamatkan, lebih baik anda memutuskannya dengan perlahan dan dengan cara yang sopan, dan tentu saja anada tidak ingin mencari musuh bukan ?

Pahami jenis pertemanan anda, setiap orang harus ingat bahwa pertemanan tidak selamanya berusia panjang, sebagian pertemanan hanya berlangsung singkat dan tidak bertahan lama.

“Jika pertemanan tak bisa dipertahankan, jangan memaksakan diri untuk tetap berteman, bisa jadi hal ini malah akan membahayakan karier anda.

Meski begitu, pertemanan yang kandas bukan berarti membuat anda harus terus menjaga jarakdengan rekan kerja, bertemanlah sewajarnya karena teman ditempat kerja bisa menjadi teman kolaborasi yang baik, penyemangat kerja, tempat anda berkeluh kesah sekaligus tempat anda mengisi semangat untuk siap kembali bekerja .

sumber: koran SI/tty)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.